Ingin bisnis Anda naik level? Let's 9.0 Together Gabung sekarang
← Semua berita

15 Juni 2007

Ada Kelompok Mastermind yang Vakum?

Action Members, Keberadaan kelompok mastermind sangat penting di TDA. Jadi, kita berharap sekali program kegiatan ini menyebar di mana-mana dan menjadi tulang punggung TDA di sama mendatang.

Kita tidak bisa hanya mengandalkan sarana milis dan pertemuan umum sebagai tulang punggung TDA.

John Naisbitt dalam buku Global Paradox bilang: semakin besar suatu negara, semakin kuat unit-unit terkecil di dalamnya. Begitu juga terjadi di perusahaan atau komunitas seperti TDA ini. Semakin besar TDA, semakin penting peran unit-unit terkecilnya, dalam hal ini adalah kelompok mastermind.

Kemarin saya mendapat informasi bahwa ada salah satu kelompok mastermind yang vakum kegiatannya. Saya tidak akan sebutkan kelompok yang mana.

Masalahnya adalah klise dan sudah kita antisipasi sejak awal: ketidakcocokan waktu di antara para anggotanya.

Makanya dari awal saya sudah sampaikan. Yang penting dari mastermind adalah: komitmen dan konsistensi.

Kalau itu tidak ada, maka jadilah kelompok itu sebagai Mastermind Omdo (omong doang) atau Mastermind HHCS (Hot-Hot Chicken Shit).

Soal waktu, jarak, komitmen juga menjadi kendala kelompok saya. Tapi, alhamdulillah semua itu bisa dijalani meskipun masih banyak kekurangan.

Rabu kemarin kami bertemu di tempatnya Pak Aris di Depok. Bayangkan, saya tinggal di Kebayoran Lama, Pak Agus di Bekasi, Bu Yulia di Priok, Pak Iim di Pademangan. Jauh kan?

Meski pun Pak Iim terpaksa absen karena sedang ada pekerjaan mendadak di Karawang, pertemuan tetap berlangsung dari jam 13.40 sampai habis Maghrib.

Di pertemuan itu kami "menumpahkan" semua masalah, uneg-uneg dan sebagainya. Meskipun tidak selalu ada solusinya, minimal dengan sharing itu hati kita menjadi plong, dan menjadi ringan.

"Peace of Heart" (d/h Peace of Mind), "Ikhlas" dan "Feeling Good" adalah "mantra" sakti yang kerap kami gunakan sebagai solusi instant.

Kelompok ini kemudian juga bertransformasi tidak hanya sekedar bisnis, tapi juga hal lain. Kami ingin keseimbangan dalam semua aspek kehidupan. Keluarga, spiritual, sosial, kesehatan dan sebagainya.

Ada satu budaya unik yang terjadi di kelompok ini, yaitu budaya saling traktir. Hehehe...

Jadi, kalau ada anggota yang dapat winning atau kemajuan apa pun, biasanya berinisiatif mentraktir yang lainnya. Setelah Pak Iim yang baru saja dapat proyek lumayan, kemarin giliran Bu Yulia yang mentraktir makan di sebuah restoran Sunda.

Apakah semua berjalan lancar-lancar saja?

Tidak juga.

Pernah dalam suatu pertemuan, suasana berlangsung cukup panas dan tegang saat kami membahas permasalahan salah seorang di antara kita. Tapi, alhamdullillah setelah itu cair lagi dan dingin lagi. Itulah dinamikanya.

Dalam pertemuan berikutnya, kami sepakat untuk saling tukar ilmu di bisnis masing-masing. Kami yakin, dengan latar belakang keahlian yang berbeda-beda ini bisa dimanfaatkan untuk saling dipertukarkan di bisnis kami masing-masing. Misalnya, Pak Iim akan sharing ilmu ITnya di salon Bu Yulia, Bu Yulia akan sharing ilmu SDMnya di Manet dan sebagainya.

Isn't that interesting?

Makanya, segeralah dibentuk kelompoknya. Bagi yang sudah jalan atau lagi vakum, hidupkan lagi dong.

Buat sistem yang kuat. Buat aturan main yang tegas. Jangan tergantung dengan member lain. Kalau dia tidak komitmen, diberi peringatan atau diganti aja.

Buatlah kelompok mastermind yang punya komitmen tinggi, bukan yang Omdo atau HHCS. Setuju?

Salam FUUUNtastic!

Wassalam, Roni

Sumber: Badroni Yuzirman (Founder TDA)