Akhirnya Pak Agus Ali, salah seorang founder TDA mengajukan surat pengunduran dirinya sebagai karyawan atau Tangan Di Bawah (TDB) dan melengkapi daftar wisudawan TDA pada Milad pertama TDA akhir Januari 2007 nanti. Setelah cukup lama menimbang-nimbang, keputusan ini diambilnya dengan segala konsekuensi yang mengikutinya.
Karir Pak Agus yang sudah cukup settle dengan gaji yang mantap tak membuatnya mundur dari rencananya ini. Saya sendiri salut dengan keputusan ini. Tak banyak orang yang bisa keluar dari comfort zone seperti ini dan merambah dunia baru yang dia harus berjuang kembali dari awal.
Tapi, Pak Agus tidaklah melangkah tanpa pertimbangan dan persiapan yang cukup. Dia sudah mempersiapkan beberapa bisnis yang akan ditekuninya selepas dari dunia kerjanya ini. Bulan Januari nanti dia akan memulai bisnis pencucian mobil dengan mengambil franchise Autobridal. Bisnis garment dan IT juga telah dirintisnya bersama teman-teman TDA. Tawaran menjadi mitra kerja di sebuah perusahaan IT pun telah menantinya. Untuk keuangan keluarga pun Pak Agus sudah mempersiapkan cadangan jikalau bisnisnya belum menghasilkan cukup di tahap-tahap awal.Istrinya -yang saat ini juga bekerja - dengan ikhlas menerima keputusan ini dan turut mendukungnya.
Jadi, secara hitung-hitungan di atas kertas, Pak Agus sudah mempersiapkannya dengan cukup matang. Maklum, seorang istri dan 2 orang anak jangan sampai dikorbankan kalau keputusan ini semata adalah emosional saja.
Tantangan terbesarnya sebenarnya bukanlah dari istri dan anak-anaknya, melainkan dari orang tua. Hmmm, ini memang cukup berat. Orang tua pastilah tidak ingin anaknya menurun kualitas hidupnya. Keberatan ini wajar sekali. Namun, dengan caranya Pak Agus berhasil meyakinkannya.
Langkah yang ditempuh Pak Agus ini adalah langkah yang "aman" menurut saya. Ada satu lagi langkah yang ekstrim dan berisiko, istilahnya adalah "bakar kapal" alias nekad. Mereka yang melakukan ini berhenti bekerja dan mulai menjadi TDA tanpa persiapan apa pun. Namun berbekal tekad dan keyakinan yang kuat. Ini tidak saya sarankan, tapi banyak juga yang melakukannya dan berhasil. Mereka menciptakan "critical point" bagi dirinya sendiri dan terjadilah "mestakung" atau semesta mendukung. The power of thinking, the power of mindset, the power of praying, bermain di sini.
Selamat menempuh hidup baru sahabatku, Pak Agus. Selamat datang di dunia TDA. Dunia yang indah namun penuh tantangan. Dunia yang penuh kebebasan dan banyak pilihan. Di dunia ini kita setiap hari memilih, bukan dipilihkan. Itu bedanya TDA dengan TDB.
Masuknya Pak Agus ke dalam barisan TDA juga sekaligus menambahkan barisan provokator dan inspirator yang sudah full TDA. Mudah-mudahan ini akan diikuti oleh para Action Member lainnya. Itulah tujuan dan harapan kita semua.