"Me too is not my style" saya teringat salah satu judul buku biografi dari pemilik Acer (kalau tidak salah). Isi bukunya saya tidak tahu, tapi intinya sipenulis ingin menceritakan bahwa sukses yang diraihnya adalah dari hasil usaha dan pemikiran originalnya, bukan ikut-ikutan.
Kenapa saya tertarik menulis mengenai ini? Karena saya melihat ada kecenderungan seperti itu di TDA ini. Ini kritik saya dari awal, supaya tidak terjadi pembusukan di tengah jalan nantinya. Mudah-mudahan saya salah. Kalau iya, tentunya perlu kita waspadai, karena itu akan berbahaya bagi perjalanan komunitas dan setiap anggotanya.
Apakah ide bisnis saya sendiri original? Dengan yakin saya jawab: tidak! Saya mendapatkan ide ini dari proses ATM (Amati Tiru Modifikasi). Jadi, setelah saya amati bisnis lain, saya tiru best practicesnya dan saya modifikasi kekurangannya, maka jadilah bisnis saya seperti ini. Perlu proses dan pematangan konsep yang tentunya membutuhkan waktu, tenaga, uang dan pemikiran yang tidak sedikit tentunya. Jadi, tidak instant. Proses ini juga mengalami jatuh bangun dan berdarah-darah. Untungnya, saya punya pendamping yang bersedia berpeluh dan berdarah bersama saya :-).
Tadi malam (5/4) saya dan Pak Iim bertemu dengan Pak Eddy Aji dari warungbarokah.com untuk membicarakan kerja sama pengembangan TDA di bidang IT. Dari ceritanya, saya menangkap bahwa keberhasilan bisnisnya juga tidak diraih dengan mudah. Sebagai orang muda yang penuh gairah untuk maju, saya melihat Pak Eddy ini penuh dengan ide dan kreativitas. Bayangkan, dia dan timnya telah menghasilkan lebih dari 20 ide/produk yang telah dipatenkan. Itu adalah keunggulannya. Dia punya hobi untuk mengutak-atik apa saja menjadi lebih baik dan kemudian dibuat konsep bisnisnya. Jadilah bisnis Magickink, Panel Neon, pulsa elektronik, dan sebagainya. Semua itu adalah hasil dari ketekunan dan kreativitasnya mengubah sesuatu yang tidak ada menjadi ada, yang kurang baik menjadi lebih baik.
Money is an idea. Itu telah dibuktikan oleh orang-orang seperti Michael Dell dengan ide PC rakitannya, Bill Gates dengan ide software untuk semua komputer di dunia, Howard Shultz dengan konsep kedai kopi Starbucks-nya. Demikian juga dengan Pak Eddy Aji ini. Dia melihat bahwa banyak orang yang punya uang untuk memulai bisnis dan tidak mau repot berpikir bagaimana men-set up bisnis dari awal. Jadilah konsep business solution-nya.
Saya memulai bisnis di Tanah Abang tahun 2001, terus terang karena ada modal dari orang tua. Tapi tanpa ide. Saya ikut aja jual apa yang dijual orang lain. Soal harga, saya juga ikut dengan harga pasaran di sana. Memang duitnya dapat juga. Tapi tidak ada kepuasan di dalam diri saya. Kalau cuma ikut-ikutan begini, buat apa gelar sarjana saya? Saya menjadi tertantang untuk melakukan perubahan. Didorong oleh ancaman kebangkrutan akhir 2003 lalu, otak saya "terpaksa" menjadi kreatif. Modal sudah hampir habis. Keuntungan yang dikumpulkan selama 3 tahun amblas tak bersisa. Piutang tak tertagih tersebar di mana-mana. Justru di saat-saat genting itulah otak saya menjadi tertantang untuk kreatif. Dengan modal yang jauh lebih sedikit tapi dengan kreatifitas yang jauh lebih tinggi, alhamdulillah bisnis saya kembali bangkit di awal 2004 lalu.
Saya tidak melarang teman-teman untuk bersama-sama membentuk bisnis tertentu, misalnya garmen, seluler, IT, makanan dan sebagainya. Tapi dibalik keikutsertaan tersebut harus ada ide yang kuat di balik bisnis itu. Harus ada suatu konsep yang jelas dalam berbisnis. Jangan sekedar ikut-ikutan saja. Nanti jadinya seperti spekulasi. Barangkali aja ikut pameran ini bisa sukses. Itu mungkin saja. Tapi di balik itu harus ada ide dan konsep yang jelas di balik keikutsertaan itu. Jangan sampai kita berlari ke segala arah tanpa tujuan yang jelas. Akhirnya berhenti karena ngos-ngosan kecapean. Uangnya pun nggak dapat.
Semoga bermanfaat.