Berlangsung di Foot Court Sarinah, Jl. Thamrin Jakpus Jumat 5/5, diskusi dan sharing tentang strategi menuju kaya a la Robert Kiyosaki versi Budi Rahmat berlangsung hangat dan seru. Diskusi yang dimulai setelah makan malam bersama ini dimulai dengan paparan dari Pak Budi sejak awal beliau resign tahun 2003 sampai saat ini dan targetnya tahun 2010.
Empat belas orang anggota komunitas Tangan Di Atas (TDA) yang hadir termasuk Pak Budi, Pak Agus, Pak Hasan, Pak Yusef, Pak Hertanto, Pak Selva, Mbak Waru, Pak Bambang, Pak Khadik, Pak Hantiar, Bu Asmita, Saya, istri saya Ely, dan ipar saya Deri dari Palembang mengajukan pertanyaan bertubi-tubi kepada Pak Budi. Maklum, kalau topiknya mengenai 'uang' dan 'kaya' selalu akan menyedot perhatian. Anggukan dan tarikan nafas dalam mewarnai diskusi yang dimulai sejak pukul 19.30 ini.
Pak Budi yang juga ikut program TDA di bidang garmen dan seluler ini secara sistematis menjelaskan langkah-langkahnya dalam menerapkan strategi menjadi kaya versinya. Setelah melahap 12 seri bukunya, ilmu dari Robert Kiyosaki seperti sudah mendarah daging dalam dirinya. Dengan gamblang dan simple Pak Budi menjelaskan langkah-langkah awalnya saat pindah kuadran sampai menikmat kondisi financial freedom saat ini.
Stateginya meleverage propertinya di apartemen Taman Rasuna sehingga menjadi aliran cashflow yang mantap dari sewa dan dari bisnis waralaba Alfa Mart patut diacungi jempol. Ternyata ada yang bisa menerapkan teorinya Robert Kiyosaki dengan sedikit modifikasi di Indonesia. Kendaraan menjadi kaya a la Robert Kiyosaki semua dicobanya, mulai dari bisnis, properti dan paper asset.
Yang saya amati dari Pak Budi ini, beliau memiliki pola pikir dan tindakan yang terencana dan sistematis. Planning, organizing, actuating, controllingnya (POAC) berjalan mulus. Itu yang sebagian besar kita gagal menjalankannya, termasuk saya.
Selanjutnya, peserta diskusi ini diberi PR oleh Pak Budi untuk membuat neraca keuangan pribadi sekaligus melakukan financial health check. Sebulan lagi kami akan bertemu lagi untuk melakukan review dan evaluasi terhadap kondisi keuangan kami. Setelah itu barulah kita melangkah mengikuti jejak Pak Budi. Insya Allah kelompok ini akan menjadi cikal bakal dari TDA Wealth Club.
Akhirnya acara kami akhiri karena "diusir" oleh pengelola food court yang sudah mulai menarik pintu rollingnya. Perpisahan kami juga diakhiri dengan seloroh dari Pak Agus, "Wah, nanti malam saya nggak bisa tidur, nih".