Ingin bisnis Anda naik level? Let's 9.0 Together Gabung sekarang
← Semua berita

26 September 2006

Halo Member TDA Sepatu, Ini Sedikit Inspirasi Untuk Anda...

Teman-teman TDA Sepatu di Metro Tanah Abang, dari beberapa pertemuan dan diskusi kita, saya menyimpulkan beberapa kelemahan. Di antaranya adalah semua member tidak punya pengalaman di bisnis sepatu, mayoritas member adalah TDB atau amphibi yang sulit membagi waktunya, tidak ada mentor atau koordinator yang punya pengalaman di bisnis sepatu, kendala modal dan sebagainya.

Dalam tulisan ini, saya tidak ingin membagikan kiat-kiat berbisnis sepatu, karena saya pun awam dalam bidang ini. Saya hanya pernah memberi arahan dengan menggunakan common se nse yang saya yakin berlaku di bisnis apa pun. Tulisan ini adalah beberapa cerita menyangkut bisnis sepatu yang insya Allah bisa menginspirasi anda dan melihat dunia bisnis sepatu dengan lebih optimis.

Bisnis sepatu sebenarnya lebih menarik dibandingkan bisnis garment. Soalnya konsumen rata-rata tidak tahu harga pokok dari sepatu itu. Istilahnya Pak Tung , harganya gelap. Jadi anda bisa memberikan harga berapa saja tanpa khawatir akan ketahuan modalnya oleh calon pembeli. Ini beda dengan bisnis garment yang rata-rata harga jualnya sudah umum diketahui oleh calon pembeli. Sehingga si pedagang tidak bisa dengan mudah untuk memainkan harganya.

Adik ipar saya berbisnis ritel sepatu di Palembang. Tokonya lumayan ramai. Bahkan dia sampai seminggu sekali ke Jakarta untuk berbelanja di Pasar Jatinegara atau Pasar Anyar Bogor. Marginnya pun tinggi. Dia bebas menentukan harga, karena konsumen rata-rata tidak tahu harga pokoknya. Apa lagi sepatu atau sandal perempuan. Dia bisa mengambil keuntungan 2 atau 3 kali lipat! Dalam sebulan dia bisa memperoleh omset seratus jutaan. Bayangkan berapa keuntungannya kalau seandainya dia mengambil margin 40%-60% saja! Dan biasanya marginnya di atas itu. Itulah dahsyatnya bisnis sepatu.

Margin yang tinggi di bisnis eceran sepatu adalah lazim dilakukan karena ada risiko barang yang tidak laku. Tapi persentase margin juga mengikuti jauhnya jarak dari pusat grosir. Semakin jauh, margin semakin tinggi. Jadi, di Jabotabek tidak bisa diberlakukan sama dengan di Palembang.

Sekarang saya ingin bercerita tentang Pasar Anyar Bogor. Di sinilah pusat grosir sepatu kelas murahan dengan distribusi ke seluruh Indonesia. Mirip dengan Tanah Abang dengan grosir tekstilnya. Para pedagang dari Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi banyak yang datang mencari barang dagangan untuk dijual kembali secara grosir maupun eceran di daerahnya. Kalau anda lihat sepatu-sandal yang di jual di kaki lima atau konter di mal dengan harga murah, mayoritas berasal dari Bogor. Di Bogor banyak pengrajin atau bengkel sepatu kelas rumahan yang men- supply ke toko-toko di Pasar Anyar ini. Kabarnya, sepatu Yongki Kamaladi yang sudah terkenal itu juga dibuat di Bogor. Jadi, sepatu kelas Yongki pun bikinnya di Bogor.

Yang menarik dari Pasar Anyar yang lokasinya tidak jauh dari stasiun kereta api ini adalah banyak orang kaya baru (OKB) yang berasal dari ini. Hebatnya, rata-rata mereka adalah anak-anak muda umur 20-30-an. Dalam waktu setahun tidak heran banyak di antara mereka sudah mengendarai Innova baru, punya rumah atau beberapa ruko. Ini benar adanya, karena saya tahu persis siapa orang-orang itu. Pendidikan mereka ada yang hanya SMP sampai sarjana. Saya dapat informasi ini dari paman istri saya yang juga merintis bisnis grosir sepatu setahun belakangan ini.

Paman istri saya ini pun awalnya tidak punya pengalaman sama sekali di bisnis sepatu. Background nya adalah bisnis karpet. Nggak nyambung kan? Mulanya dia sering nongkrong di tempat kawannya di Pasar Anyar itu. Dari sekedar bertanya-tanya dan banyak dapat ilmu, kemudian timbullah niatnya untuk berbisnis sepatu. Hasilnya pun tidak main-main. Dalam setahun sudah ada Innova nongkrong di rumahnya.

Kok gampang dan cepat banget ya? Ya, begitulah kisah sukses di bisnis sepatu khususnya di Pasar Anyar Bogor ini. Bedanya dengan memulai bisnis di Pasar Tanah Abang, Mangga Dua, atau Jatinegara, untuk mulai bisnis di Pasar Anyar tidak dibutuhkan modal besar. Di Tanah Abang, dibutuhkan modal ratusan juta. Di Pasar Anyar, dengan 20-50 jutaan pun sudah bisa mulai.  Artinya, pemodal cekak pun bisa berpeluang di sini.

Ada lagi keunggulan Pasar Anyar Bogor ini, jumlah pedagangnya pun tidak banyak, paling-paling hanya beberapa ratus. Jadi, pasarnya ke seluruh Indonesia namun hanya dilayani oleh beberapa ratus toko saja. Makanya, pembagian rejeki di sini menjadi merata. Ini beda sekali dengan Pasar Tanah Abang dan yang lainnya di Jakarta. Di Tanah Abang ada ribuan pedagang. Belum lagi ditambah dengan kios-kios baru. Jadi, lebih banyak yang jualan dibandingkan yang beli. Maka, saya pun berani berkesimpulan bahwa di Pasar Anyar ini paling banyak mencetak jutawan baru dibandingkan pasar lainnya.

Cerita ini jangan diartikan sebagai upaya saya menciutkan nyali teman-teman di TDA Sepatu di Metro Tanah Abang. Sama sekali tidak. Saya hanya memberikan sedikit pandangan atau insight dunia persepatuan yang saya ketahui dan peluangnya. Cerita ini hanya sebagian kecil saja dari luasnya peluang bisnis di dunia persepatuan. Insya Allah nanti saya sambung lagi kalau ada informasi lain. Semoga bermanfaat dan menginspirasi. Selanjutnya, terserah anda. Ada yang tertarik untuk masuk ke Pasar Anyar dan menjadi OKB dalam setahun? Silakan... Yang jelas, the money is there!

Salam FUUNtastic TDA!

Be open minded, look at the big picture. Use your imagination...

Wassalam, Roni, Weblog: www.roniyuzirman.com My Business: Manet Busana Muslim www.manetvision.com Member of TDA Community www.tangandiatas.com Y!M: nagarimagek

Sumber: Badroni Yuzirman (Founder TDA)