Ingin bisnis Anda naik level? Let's 9.0 Together Gabung sekarang
← Semua berita

15 Oktober 2006

Indikator Member TDA

Kemarin saya berdiskusi via Y!M dengan Pak Iim , koordinator TDA IT. Saya ingin agar di TDA ini para membernya mempunyai target atau tujuan menjadi member komunitas TDA. Sebagaimana diketahui TDA bukanlah milis. Kelahirannya tidak diniatkan untuk menjadi sebuah milis dengan anggota yang banyak. TDA adalah jaringan kerja dengan milis sebagai sarana komunikasi dan koordinasinya.

Tujuan utama TDA adalah menjadikan para membernya menjadi TDA murni. Bila sudah menjadi TDA atau business owner, maka kita sudah menjadi salah satu penyumbang solusi terhadap masalah ekonomi bangsa. Bayangkan, bila 600 orang member ini punya omset Rp. 1 Milyar saja per tahun, berarti Rp. 600 milyar setahun? Kalau setiap member mempunyai rata-rata 5 orang karyawan, artinya sudah 3.000 lapangan kerja yang kita buka. Anggap saja masing-masing tenaga kerja itu menghidupi 3 orang anggota keluarganya. Artinya ada 9.000 orang yang rizkinya mengalir melalui perantara kita. Belum lagi tenaga kerja yang tidak langsung yang jumlahnya bisa beberapa kali lipat dari tenaga kerja langsung. Mungkin puluhan ribu. Di bisnis saya saja, ada ratusan tenaga kerja tidak langsung yang terlibat.

Belum lagi potensi zakat, infaq, shodaqohnya. Subhanallah. Kemarin saja TDA Peduli sudah berhasil mengumpulkan dana sekitar Rp. 23 juta lebih. Itu baru permulaan. Bagaimana dua tiga tahun lagi. Tentunya akan makin besar sejalan dengan pertumbuhan bisnis masing-masing member TDA. Can you imagine?

Yang jelas, TDA ini didirikan dengan doktrin yang jelas dan tegas, yaitu untuk menjadi TDA sebagaimana yang dilontarkan oleh Pak Haji Ali waktu talkshow bulan Januari lalu. Tidak ada kompromi dari beliau soal ini. Kita harus jadi TDA. Titik. Saya juga teringat dengan salah satu wasiat dari almarhum Hasan Al Bana, tokoh ulama dari Mesir. Kata beliau, jadilah pengusaha dan jangan jadi pegawai, karena menjadi pegawai adalah sesempit-sempitnya pintu rezeki.

Oke, apa pun itu tujuannya, harus dimulai dengan langkah pertama. Apa pun itu bisnisnya, yang jelas sudah banyak member yang take action , memulai langkah pertama dan keluar dari comfort zone. Salut. Lantas, apa indikatornya yang bisa kita gunakan untuk menilai seorang member itu sudah naik kelas? Secara kualitatif kita sudah punya indikator, yaitu TDA, TDB dan ampibi. Tapi itu belum cukup. "Dari omzet aja, Ron", usul Pak Iim. Menurut saya itu tidak bisa. Soalnya setiap bisnis beda hitungannya. Omzet bisnis voucher beda dengan makanan atau garment. Kita harus sepakati indikator itu. Yang penting mudah, sederhana dan bisa diterima semua pihak. Dengan pihak Action International saya pernah diskusikan masalah ini. Mungkin kita bisa juga gunakan indikator 5 Ways dan 6 Steps itu.

Lantas, bagaimana jika member itu sudah gabung 1 tahun tapi belum take action juga? Ya, mungkin dengan terpaksa kita harus minta member itu untuk mengundurkan diri saja. Karena semua provokasi di TDA selama ini nggak mempan untuk dia. Sense of urgency , atau keharusan untuk take action harus didorong di TDA ini, seperti yang diajarkan oleh Adam Khoo .

Mohon maaf ya, tulisannya agak keras. Soalnya saya ada tanggung jawab moral terutama dengan Pak Haji Ali. Jangan sampai nanti pas milad pertama TDA, beliau tanya berapa jumlah member yang sudah TDA murni? Saya ingin jawab, "Sudah semuanya TDA murni, Pak Haji". Amiin....

Salam FUUUNtastic TDA!

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

Roni, Weblog: www.roniyuzirman.com My Business: Manet Busana Muslim www.manetvision.com Member of TDA Community www.tangandiatas.com Y!M: roniyuzirman

Sumber: Badroni Yuzirman (Founder TDA)