Wah, si Anu sudah sukses sekarang. Dia baru beli mobil BMW...
Si Anu juga sukses. Dia baru dapat orderan ekspor 10 miliar...
Si Anu enak sekarang ya. Tinggal tanda tangan doang, dapat duit...
Anda sering mendengar atau berkomentar seperti di atas?
Wajar ya. Saya sendiri sering kok berkomentar seperti itu.
Komentar seperti itu adalah komentar refleks, karena mindset kita mengenai sukses itu adalah seperti itu: kaya, punya mobil mewah, rumah mewah, istri cantik, anak-anak yang hebat, jabatan yang menggiurkan, gelar yang mentereng dan sebagainya.
Pertanyaannya, kenapa semua kriteria sukses itu selalu dilekatkan dengan benda atau materi?
Menurut Ustadz Hudzaifah saat pengajian TDA Qolbun Salim ke 4, Ahad 3 Juni lalu, sebenarnya yang dicari manusia bukanlah benda-benda itu.
Yang kita cari sesungguhnya adalah: KEBAHAGIAAN.
Kita semua berpikir jika semua benda itu telah dimiliki, bahagia akan datang.
Kenapa orang korupsi? Kenapa orang menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya?
Ya, sebenarnya mereka mencari "bahagia" dengan cara-cara itu.
Tapi, hei, jangan salah. Apakah ada jaminan setelah itu semua didapat, bahagia akan dirasakan?
Siapa yang jamin?
"Jangan kaitkan kebahagiaan dengan materi", ujar Ustadz yang berceramah setiap Selasa jam 05.30 di Radio Trijaya ini.
"Kebahagiaan itu sebenarnya sudah ada dalam diri kita. Built in. Saat ini juga".
"Kebahagiaan itu tidak bersyarat. Jangan kaitkan kebahagiaan kita dengan apa pun, kecuali kedekatan kita dengan sang pencipta".
Ustadz Hud juga mengutip 7 kriteria sukses menurut Zig Ziglar , yaitu: 1. Bahagia 2. Sehat 3. Keluarga harmonis 4. Harta 5. Punya relasi 6. Keamanan (safety) 7. Punya harapan Lihat, Zig Ziglar menempatkan kebahagiaan di nomor satu. Harta malah di nomor 4.
Buat apa banyak harta kalau keluarga berantakan?
Buat apa punya mobil mewah tapi sakit-sakitan?
Buat apa kalau punya duit miliaran tapi nggak bisa tidur takut didatangi aparat KPK?
Yang penting kita harus bahagia dengan kondisi kita saat ini. Ini bisa dimulai SEKARANG juga. Tanpa syarat.
"Yakinlah, kekayaan itu ada dalam diri kita sendiri, yaitu hati dan pikiran. Itulah tambang emas kita", lanjut Ustad yang tengah menulis buku berjudul Successful Mukmin In Life (SMILE) ini.
"Selain itu, jangan lupakan sukses jangka panjang, yaitu diampuni dosa-dosa kita, dijauhkan dari siksa neraka, mendapatkan surga dan bertemu dengan Allah SWT", lanjutnya menutup ceramah yang dihadiri lebih dari 90 member TDA di kediaman H. Ali ini.
Saya tutup tulisan ini dengan mengutip tulisan salah satu penulis favorit saya.
Ada 3 kunci untuk mencapai kebahagiaan, tulis Arvan Pradiansyah dalam buku terlarisnya; Life is Beautiful:
1. Rela memaafkan. Coba renungkan kata "Subhanallah". Allahlah yang Maha Suci, sementara manusia adalah tempat kesalahan dan kealpaan. Kesempurnaan manusia justru terletak pada ketidaksempurnaannya. Sebagian permasalahan hidup kita bersumber dari ketidakmampuan kita untuk memaafkan orang lain, kata dokter Gerard Jamponsky.
2. Bersyukur. Orang yang bahagia selalu mengucapkan Alhamdulillah dalam situasi apa pun. Orang yang bersyukur tidak tergganggu dengan apa yang ada di luar karena dia selalu menerima apa saja yang dihadapi.
3. Tidak membesar-besarkan hal-hal yang kecil."Allahu Akbar", hanya Allahlah yang Maha Besar. Semuanya kecil, termasuk masalah-masalah yang kita hadapi setiap hari itu. Kebanyakan hal-hal yang kita pusingkan itu adalah masalah-masalah kecil yang tidak lama kemudian sudah kita lupakan.
Salam FUUUNtastic!
Berbahagialah sekarang!
Wassalam, Roni,Owner, Manet Busana Muslim