Ingin bisnis Anda naik level? Let's 9.0 Together Gabung sekarang
← Semua berita

22 Februari 2006

Komunitas TDA adalah Inkubator Bisnis

Ini adalah beberapa ide pokok pemikiran saya tentang Komunitas Tangan Di Atas (KTDA), tentunya ada yang setuju dan tidak setuju (perbedaan pendapat seperti ini dalam komunitas kita saya anggap bukan sebagai perpecahan, malah sebaliknya, sebagai wacana demokrasi yang dapat mendewasakan kita) :

KTDA adalah bukan sebuah organisasi sosial, politik ataupun budaya yang harus berlandaskan hierarki dan strukturalitas. KTDA adalah sebuah organisasi yang tidak ubahnya seperti sebuah inkubator bisnis. Yang bertujuan untuk mencari, mengolah dan menindaklanjuti peluang2 bisnis yang ada antara masing2 anggota KTDA.

Inkubator bisnis disini juga berfungsi sebagai media yang berfungsi untuk merangsang, membimbing dan mendampingi sebuah peluang bisnis mulai dari tahap ide/perencanaan hingga sampai pada tahap implementasi (langsung action). Tentunya faktor keterlibatan anggota KTDA merupakan prioritas utama, sehingga peningkatan kemampuan bisnis anggota! KTDA adalah goal dari dibentuknya komunitas ini. Penekanannya pada kebersamaan dan kesejahteraan bersama.

Contoh konkret kasus2 yang saya anggap wujud dari berfungsinya inkubator bisnis ini dengan dilandasi oleh kebersamaan dan solidaritas.

1. Kasus I Pada awalnya Mbak Yulia kesulitan dalam membuka bisnis jilbabnya. Sampai2 untuk penyediaan barang dan optimisme bahwa produknya bisa laku apa tidak, dia sendiri masih merasa kebingungan. Permasalahan ini dia posting ke milis sebagai wujud sharing untuk mencari solusi. Muncullah Pak Roni menawarkan perkenalan dengan supplier jilbab dari tanah abang yang bisa menjamin kuantiti produksi dan harga yang bersaing. Sampai pada tahapan ini masalah Mbak Yulia mendapatkan respon dan terbantukan. Bahkan terakhir saya dengar katanya dia dapat order jilbab 1000 kodi dari negara antah berantah. Jalinan kekompakan, komunikasi dan solidaritas yang berbuah manis kan?

2. Kasus II Tak disangka tak! dinyana, sahabat kita Pak Agus punya pabrik kaos sendiri. Dari berbagai sharing dan diskusi2 kecil antar teman Mangga Dua, banyak kendala tentang penyediaan kaos mulai dari anak2 sampai dewasa. Dan untungnya berkat jalinan solidaritas yang kuat Pak Agus menyediakan waktu dan menawarkan kepada teman2 untuk datang menengok langsung pabrik kaos miliknya. Tentunya masalah peluang dan tindak lanjut kunjungan itu menjadi tanggungan dari teman2 sendiri. Masak Pak Agus lagi yang mikirin, kan pusing ya pak?Dengar sana dengar sini ternyata banyak juga yang sudah jalan kerjasama dengan Pak Agus. Lagi2 pohon solidaritas berbuah manis.

3. Kasus III Mbak Waru (salah satu orang yang saya kagumi dikomunitas ini karena kegigihannya) mungkin adalah satu2nya orang yang nuuekat resign dari pekerjaannya. Alasannya?Saya yakin karena kepercayaan yang tinggi terhadap peluang dikomunitas kita ini. Diawal2 kita buka toko, mbak waru mungkin agak "sepet" matanya melihat design toko2 kita yang sangat biasa. Bersama kakaknya diapun berinisiatif untuk membantu mere-design semua toko kita (bantuan semi komersil). Hingga akhirnya semuapun nampak segar dipandang. Dan toko batik saya? Wow laksana Batik Van de Boutique le Francoise.

4. Kasus IV Pak Hertanto (salah satu orang yang saya kagumi dikomunitas ini karena kerendahan hatinya dan keteguhan syariahnya) bercerita kepada saya tentang prospek ekspor ke Timteng. Produk yang diminta arang briket, jaket, sepatu dan tasbih. Semua produk yang disebut Insha Allah ada kecuali arang briket. Saya teringat pernah ada promosi arang briket di Milis EU. Langsung saja saya kontak orangnya dan kami arrange agenda ketemuan untuk saling jajagi. Hasilnya...to be continued...

Semua kasus2 diatas, mulai dari saling mengenalkan link masing2 anggota sampai dengan meredesign toko bersama adalah hasil dari sebuah energi solidaritas, kekompakan dan kepedulian antar sesama anggota KTDA untuk bisa ma! ju bersama.

Proses ini biarlah berlalu secara alamiah tanpa harus terjebak dalam mekanisme struktural. Saya yakin roh kebersamaan kita akan tetap hidup karena kita tidak terkotak2 dalam sekat2 struktural. Sekarang biarlah Pak Roni jadi ketua, Mbak Yulia jadi sekretaris, dan Mbak Waru bendahara. Tapi minggu depan bisa jadi Pak Abduh yang jadi "Ketua" (dalam tanda kutip), Pak Ari "Sekretaris" dan Pak IIm "Bendahara". Paham kan maksud saya?

Hantiar www.hantiar.blogspot.com Salut buat perspektifnya Pak Hantiar. Mengenai istilah inkubator ini sudah menjadi pemikiran saya juga, cuma belum saya ungkapkan secara terbuka. Alasan saya, istilah ini mengandung konsekuensi yang serius. Artinya, kalau kita sudah mengklaim komunitas ini sebagai inkubator, tentunya semua anggota atau calon anggota yang tergabung bisa berharap banyak terhadap komunitas ini, yaitu bisnis mereka bisa menjadi besar bersama komunitas ini.

Dalam perjalanan kita yang singkat ini, memang kegiatan kita sudah mengarah ke sana. Mulai dari talkshow, dapat penawaran kios, kerja sama antar pribadi di antara kita, saling memberi solusi di antara kita, rencana manajemen satu atap, pemasaran bersama, rencana penyediaan fasilitas micro finance, dll itu memang mengarah kepada istilah inkubator bisnis.

Saya tambahkan lagi kasusnya Pak Hantiar: Kasus V Kerja sama antara Pak Hasan, Pak Purwoko, Pak Khairul yang sepakat bergabung membuka kios di MTA.

Kasus VI Saya juga sedang menjajaki kerja sama produksi dengan Pak Agus dan Mbak Waru.

Kasus VII Saya telah menjalankan kerja sama sebelumnya dengan Pak Iim di bidang IT untuk perusahaan saya.

Kasus VIII Minggu lalu, saya saling bertukar buku dengan Pak Joko. Pak Joko banyak koleksi buku manajemen system dari Astra sedangkan saya banyak mengoleksi buku street smart.

Sebenarnya hampir semua syarat untuk kemajuan bisnis sudah terkumpul di dalam komunitas kita. Resource SDM ada, lahan untuk berbisnis ada (Mg Dua dan MTA, saat ini), orang ITnya ada (Pak Iim, Hantiar, Ari), pakar keuangannya ada (Pak Hertanto, Pak Ary N, Pak Bambang) negosiatornya ada (Pak Hantiar), ahli manajemen proyeknya ada (Pak Hasan, Pak Joko), sumber produknya ada (Pak Agus, UKM di Bandung), akses ke pasar ada (kios dan internet), solusi financenya juga ada (dalam progress), organisatornya ada (Mbak Yulia, Mbak Febby), provokatornya juga ada (Pak Haji dan saya :-) ... Almost lengkap! Tinggal saling dipertukarkan saja dan didayagunakan dengan optimal.

Salam, Roni

Sumber: Badroni Yuzirman (Founder TDA)