Ingin bisnis Anda naik level? Let's 9.0 Together Gabung sekarang
← Semua berita

16 Januari 2007

Laporan TDA Mastermind Group

Action Members TDA , Saya mau sharing sedikit mengenai TDA Mastermind Group yang dibentuk beberapa waktu lalu. Ide ini kita ambil dari beberapa buku rujukan seperti dari penulis seperti Robert Allen , Mark Victor Hansen , Jack Canfield , dan lain-lain. Sebagai komunitas yang fokus kepada action, kita tidak banyak memperdebatkan benar-tidaknya konsep itu. Tapi kita langsung praktekkan saja.

Maka, terbentuklah sebuah kelompok dari para member yang sudah full TDA, sebagai salah satu syaratnya. Kelompok itu terdiri dari saya, Pak Iim , Pak Agus , Pak Aris dan Bu Yulia . Awalnya kami bertemu seminggu sekali di restoran Ciganea, di daerah Monas, tidak jauh dari Sarinah. Ciganea ini menjadi salah satu tempat nongkrong anak-anak TDA selain tempat nongkrong "resmi" lainnya seperti Sarinah, ITC Mangga Dua, Mangga Dua Square atau Kafe Omah Sendok. Tempatnya enak, sepi, menunya enak, mau ke toilet atau sholat pun gampang.

Sejak minggu pertama, usulan saya diterima untuk menggunakan bukunya Adam Khoo , Secrets of Self-Made Millionaire sebagai kurikulum kelompok ini. Buku itu begitu praktis dan mudah dicerna. Isinya cenderung menjadi semacam buku kerja (work book) yang bisa langsung kita praktekkan).

Pertemuan sekali seminggu setiap Selasa jam 4 sore, cukup berat bagi sebagian anggota yang masing-masing sibuk dengan bisnisnya. Tapi, kita sudah buat aturan mainnya. Semacam ground rule kita buat. Yang terlambat, harus nraktir kita semua. Hand phone pun harus dimatikan selama pertemuan.

Dalam 2 kali pertemuan, kita sudah berhasil menyamakan persepsi, terutama mengenai road map yang akan kita lalui berdasarkan bukunya Adam Khoo ini, yaitu mulai dari mindset, bikin goals, financial plan, dan action plan untuk mencapainya. Memang, ada kritik untuk buku ini yang terlalu berorientasi "otak kiri". Makanya harus diimbangi dengan buku lain, seperti bukunya Joe Vitale dan Stephen M. Shapiro yang lebih "otak kanan".

Setiap awal pertemuan, kami selalu melakukan yang namanya wifle. Wifle ini kami dapat dari Action Coac h (d/h Action International) selama mengikuti Group Coaching beberapa waktu lalu. Masing-masing kita menceritakan perasaan kita selama minggu ini. Baik atau buruk pun kita ceritakan. Dan itu tidak hanya berkaitan dengan bisnis saja.

Dari proses wifle itu kita bisa saling belajar dan mengambil hikmah dari cerita teman kita itu. Contohnya, Bu Yulia menceritakan bagaimana dia mempraktekkan ilmu 5 Ways dari Action Coach sehingga dapat meningkatkan profit bisnisnya secara signifikan. Cerita itu sungguh mencerahkan bagi teman yang lain.

Pada setiap pertemuan, selalu ada agenda action yang harus dikerjakan oleh setiap orang, seperti membuat goals, laporan neraca keuangan pribadi, dan program untuk mencapai goals itu.

Dalam pertemuan terakhir, kami mengundang Pak Budi Rachmat untuk berbagi pengalaman soal investasi. Kebetulan saat itu kami sedang membahas tentang investasi di paper asset. Bisnis dan investasi adalah satu tim, kata Kiyosaki . Jadi, topik investasi pun menjadi perhatian kami, di samping bisnis tentunya. Untuk pertemuan berikutnya kami pun akan terus mengundang teman-teman lain yang berpengalaman di bidang tertentu untuk sharing. Rencananya, untuk pertemuan mendatang, Pak Joseph Hartanto akan hadir untuk sharing pengalamannya membeli properti tanpa modal sama sekali, bahkan dia dapat uang tunai lebih Rp. 100 juta. Juga insya Allah akan hadir seorang pakar properti yang pernah ikut seminarnya Dolf De Roos tahun lalu.

Saya cukup menikmati dinamika kelompok mastermind ini. Sebagai proyek percontohan, saya menilai uji coba ini cukup berhasil dan layak untuk kita kembangkan di TDA. Kita bisa bentuk kelompok-kelompok kecil lainnya di TDA. Insya Allah, saya pribadi bersedia hadir untuk memberi masukan bagi kelompok yang akan dibentuk nanti.

Kelompok-kelompok kecil ini nantinya akan menjadi inti dari TDA. Kenapa kita tidak membesarkan TDA dari segi jumlah anggota? Karena kita ingin agar setiap member yang sudah bergabung supaya sukses dulu, minimal berubah statusnya dari TDA ke amphibi. Kita ingin agar semua member melakukan Take Double Action untuk perubahan dalam hidupnya dengan menadi TDA. Itu semua kita dorong melalui kegiatan-kegiatan di TDA, milis, dan insya Allah melalui kelompok-kelompok kecil seperti ini.

Bagi teman-teman yang baru bergabung, saya himbau agar menghilangkan mindset bahwa TDA ini adalah milis. TDA ini bukan milis, melainkan jaringan kerja. Jadi, kita lebih banyak beraktivitas secara offline, seperti dengan membentuk unit-unit bisnis di TDA.

Yang jelas, tidak ada konsep atau ide yang baik atau buruk sebelum dicoba. Kita di TDA adalah "orang-orang lapangan", kata Pak Haji Ali, inspirator dan penggagas Komunitas Tangan Di Atas ini. Biarlah orang-orang pintar itu membuat konsep, biar kita yang melaksanakan saja di lapangan. Setuju?

Salam FUUUNtastic TDA!

Wassalam, Roni NB: Oya, dari diskusi selama pertemuan mastermind ini, saya jadi terpikir untuk meneruskan program yang sudah pernah kita rintis dulu, yaitu TDA Wealth Strategy bersama Pak Budi Rachmat. Mungkin akan kita ganti namanya supaya lebih challenging, seperti TDA Wealth Mastery.

Sumber: Badroni Yuzirman (Founder TDA)