Mastermind di pantai dengan setumpuk buku "kurikulum TDA" Bu Yulia lagi semangat sharing WIFLE (What I Feel Like Expressing) Mastermind kelompok saya kemarin beda dengan biasanya. Terakhir kita adakan di Auto Bridalnya Pak Agus sambil menganalisa bisnisnya. Biasanya kita bertemu di restoran Ciganea, Sabang.
Kemarin, kita ingin suasanya yang lain lagi. Kita pilih pantai Ancol sebagai tempat pertemuan. Jadi, temanya adalah "Mastermind dengan suasanya Feel Good". Ada suara ombak silih berganti sambil memandang jatuhnya matahari sore. Mmmm, I feel good...
Memang beda rasanya. Bahkan di luar negeri katanya ada training yang dijual ribuan dollar dan pesertanya "hanya" diajak jalan-jalan di pantai dan alam untuk menikmati suasananya aja. Supaya merasa "feel good" aja.
Untuk menjadi "feel good" aja kok mahal amat ya?
Seperti biasa, setiap pertemuan 2 pekanan ini dimulai dengan WIFLE. Kalau nggak distop aja, WIFLE ini bisa memakan waktu 2 jam-an. Padahal masih banyak agenda lain.
Di WIFLE ini kita menceritakan apa yang kita alami selama 2 minggu terakhir ini. Apa aja. Baik atau buruk.
Dalam kesempatan ini saya mengajak untuk membuat semacam target atau goal yang terukur dari kelompok mastermind ini. Jadi, setelah 6 bulan atau setahun berkumpul, apa yang diperoleh. Dan itu harus terukur.
Saya mengatakan, mastermind ini bagaimana pun juga punya tujuan pragmatis. Show me the money. Kita ingin anggotanya mendapatkan itu, di samping target kualitatif lain.
Di samping itu, saya juga ingin itu semua dicapai dengan "peace of mind". Maksudnya, itu semua dicapai tanpa mengorbankan keluarga, kesehatan, keseimbangan spiritual dan sebagainya.
Kita ingin menjadi pribadi yang seutuhnya, seimbang dan menikmati hidup. Ciri-cirinya adalah kondisi "peace of mind".
Buat apa kita sukses, tapi oleh anak dipanggil "om", karena sering telat atau jarang pulang.
Pak Iim cerita mengenai seorang anak yang menabung untuk bisa berbicara dengan ayahnya selama 1 jam saja. Pasalnya, tarif ayahnya adalah $ 40 per jam, sedangkan si anak baru punya $ 20. Parah sekali.
Adam Khoo juga menghargai waktu per jamnya $ 2.500. Jadi, waktu menganggur menunggui istrinya berobat ke dokter dia gunakan waktunya untuk mengetik di laptop menyelesaikan bukunya. Karena 1 jam itu harganya $ 2.500. Itu sih versi dia. Saya nggak setuju dengan cara berpikir seperti itu.
Adam Sandler dalam film Click mengilustrasikan hal yang sama. Dia bersikukuh bahwa kerja kerasnya siang malam adalah untuk anak dan keluarganya. Padahal, istri dan anak-anaknya berkeinginan sebaliknya. Mereka ingin ayahnya ada di samping mereka. Nah, lho. Kok beda.
Jadi, kesimpulan kita dalam pertemuan kemarin adalah bagaimana kita bisa mencapai financial freedom tapi juga tetap dengan "peace of mind".
Salam FUUUNtastic!
Roni
