Mereka langsung bertemu dengan pakar dan berbagi pengalaman bisnis. Itu sebabnya komunitas itu jadi sarana akselerasi bisnis.
KISAH ini berawal dari internet. Di dunia maya, mereka berkumpul untuk membuat mimpi menjadi pebisnis jadi nyata sembari terus berupaya menyeimbangkan hidup dan berbagi dengan sesama.
Lewat milis dan pertemuan rutin sekali dalam dua pekan, mereka saling berbagi informasi, menjalin kerja sama, hingga berbisnis bersama. Mereka juga saling membagi kiat bisnis, strategi penjualan, prospek baru, dan bekeluh ketika kegagalan menimpa mereka.
Komunitas ini berdiri pada 22 Januari 2006. Anggota pertamanya, 40 pembaca setia blog roniyuzirman.blogspot.com , yang berisi kiat-kiat bisnis juga perjalanan bisnis dari hari ke hari. Isi blog itu memang sengaja dibuat provokatif, menantang pembaca untuk juga berwirausaha.
''Kemudian kami kopi darat, berembuk merealisasikan mimpi bersama untuk membuat komunitas pengusaha,'' ujar Badroni Yuzirman, pemilik blog roniyuzirman.blogspot.com .
Salah satu langkah aksi pertemuan pertama itu, mereka memenuhi tawaran Haji Ali, pengusaha yang juga anggota komunitas itu untuk menempati kios miliknya di pusat perdagangan Mangga Dua secara gratis. Kios-kios yang sewa gratis itu terletak di pojok yang sepi.
''Kami sengaja dihadirkan untuk memikat pengunjung. Namun ternyata gagal total, tapi kami tidak menyerah, diskusi di milis terus berkembang dan ternyata makin banyak yang terlibat. Satu persatu kemudian mulai mewujudkan bisnisnya, ada yang cepat, berhasil, tapi ada juga yang lambat dan tak jarang juga ada yang gagal. Bisnis kan memang bukannya tanpa risiko,'' kata Badroni atau akrab disapa Roni yang juga pemilik perusahaan busana muslim Manet yang memadukan penjualan lewat daring dan konvensional itu.
Nama Tangan di Atas (TDA) dipilih untuk menegaskan komitmen mereka bahwa yang bisa memberi lebih mulia jika dibandingkan dengan penerima alias tangan di bawah (TDB). Konteks memberi itu, kata Roni, bersifat universal. Artinya, membuka lapangan kerja, berbagi dengan sesama yang tak beruntung hingga
saling memberi kiat, semangat, informasi, inspirasi, hingga investasi.
''Kami mengartikan TDA sebagai pengusaha, sedangkan TDB sebagai karyawan. Intinya, kami berupaya saling menumbuhkan semangat wirausaha, salah satu solusi konkret terhadap permasalahan ekonomi yang sedang melanda bangsa ini,'' kata mantan pedagang yang sempat bangkrut dan tergusur dari kiosnya di Pasar Tanah Abang Jakarta itu.
Bukan cuma diskusi Kendati berangkat dari milis, komunitas ini berupaya berorientasi pada aksi. Diskusi berkepanjangan pun dihindari, mereka langsung berbuat. Targetnya, jadi pengusaha kaya yang gemar memberi kepada sesama, istilahnya enlightened millionaire.
''Target kami pada 2018, bisa mencetak 10 ribu pengusaha miliarder, artinya punya aset bersih minimal 1 miliar,'' ujar alumnus Fakultas Ekonomi Universitas Trisakti ini yang mengaku tak pernah melewatkan sehari pun tanpa internet.
Anggota TDA, tidak dibatasi umur, agama maupun latar belakang pekerjaan. Sebagian adalah pekerja alias TDB dan pengusaha yang telah malang melintang di dunia bisnis dan tentunya pebisnis yang baru saja mengambil langkah pertamanya di dunia usaha.
"Kendati konsep TDA itu digariskan dalam ajaran Islam, tapi kami terbuka, siapa pun telah dan bisa bergabung di sini, cukup lakukan registrasi di www.tangandiatas.com ujarnya.
Ke depan, kata Roni, TDA ingin memelihara kumpulannya sebagai komunitas yang berlandaskan kepercayaan tingkat tinggi atau high trust society. Karena itu, moderator pengurus TDA tak segan menyentil bahkan mendepak anggota nakal yang berpotensi merusak citra komunitasnya. Juga, mengimbau mereka yang
telah bertumbuh untuk tak lupa berbagi dengan anggota komunitas lainnya. Tujuannya, menjadikan organisasi ini kian solid dan berpeluang membuka terus kerja sama dengan pihak yang bisa mendukung pergerakan anggota komunitas
ini.
''Misalnya, Tangandiatas.com kini telah didukung penuh Virtual Consulting -nya Nukman Luthfie , menggaet BNI sebagai pengiklan. Beberapa anggota pun lebih mudah mengakses kredit BRI, tawaran ikut pameran, sewa kios gratis, dan kerelaan para pembicara top yang tak mematok harga jika bicara di forum TDA karena kan kami sendiri bukan organisasi yang cari untung,'' ujar pemenang Swa Enterprise 50 ini. (M-2)
Sumber: Media Indonesia, Minggu, 14 September 2008