Dalam setiap pertemuan Asosiasi Manajemen Indonesia (AMA) yang saya ikuti, setiap mulai acara kami selalu diminta untuk saling berkenalan dan tukar kartu nama. Bahkan anggota yang mengumpulkan kartu nama terbanyak diberi hadiah.
Alhasil, sejak bergabung tahun 2002, kartu nama saya menumpuk di rumah. Saya sendiri bingung dan lupa dengan nama-nama yang tertera di sana, saking banyaknya.
Maksud dan tujuan dari anjuran itu adalah agar sesama anggota saling kenal dan terjalin networking.
Belakangan saya pahami bahwa itu sebenarnya bukanlah network yang sebenarnya. Itu hanya tukar-tukaran kartu nama saja.
Network sendiri terdiri dari dua kata: net dan work (jaring dan kerja). Dalam bahasa Indonesia, network diterjemahkan menjadi jaringan saja. Padahal ada kata "kerja" yang justru lebih penting.
Di komunitas TDA, kami berupaya untuk menghidupkan jaringan itu supaya lebih "bekerja". Jadi, bukan hanya sekedar say hello, setiap member didorong untuk saling bekerja sama.
Ada 2 kategori anggota dalam network atau komunitas TDA ini: 1. Spektator. Ini adalah anggota yang hanya menyaksikan saja permainan yang berlangsung. Dia adalah penonton atau pengamat saja. Tidak pernah terlibat, meskipun sekian banyak kegiatan diadakan di TDA. Member tipe ini jelas tidak masuk kategori member TDA yang diinginkan.
2. Partisipator. Member dengan kriteria inilah yang kita cari. TDA tumbuh dari jaringan member partisipator, bukan spektator. Mereka terlibat dalam kegiatan-kegiatan TDA, aktif di milis, aktif juga sharing dan memberikan solusi bagi teman-temannya.
TDA hadir dengan terobosan baru dalam networking. Di sini setiap member didorong untuk saling bekerja sama dalam artian sesungguhnya. Bukan sekedar himbauan saja.
Hasilnya? Tentu member sendirilah yang layak berbicara.
Salam FUUUNtastic!
Wassalam, Roni, Owner, Manet Busana Muslim Founder, Komunitas TDA