Ingin bisnis Anda naik level? Let's 9.0 Together Gabung sekarang
← Semua berita

01 Juni 2006

Persahabatan Saya dengan Iim Rusyamsi

Teman-teman, kali ini saya ingin tulis yang agak sentimentil dikit. Bukan soal bisnis. Yaitu soal persahabatan. Persahabatan saya dengan Pak Iim Rusyamsi (Koordinator TDA IT) yang terjalin sejak kami kecil. Sejak Sekolah Dasar.

Mungkin sebagian member TDA yang ikut Tour TDA ke UKM di Bandung bulan Maret 2006 lalu telah mendengar sharing Pak Iim mengenai persahabatan kami ini. Pak Iim cerita bahwa dia kenal perpustakaan sejak saya ajak ke Perpustakaan Masjid Istiqlal. Waktu itu kami masih kelas 5 SD. Kami tinggal di Pademangan, Jakarta Utara. Untuk mencapai Istiqlal itu adalah hal yang luar biasa untuk anak seusia kami. Kami berdua nekat naik bemo ke sana. Pulangnya kami kesasar sampai ke Mangga Besar. Peristiwa itulah yang selalu kami kenang sampai sekarang.

Kedekatan kami di SD adalah karena kami punya minat yang sama. Kami berlangganan majalah yang sama, yaitu Majalah Anak-anak Halo. Setiap bertemu kami selalu saling bercerita mengenai isi edisi terbarunya. Saya ingat waktu kami sama-sama berkirim surat ke rubrik tanya jawab di majalah itu. Saya adalah penggemar berat tokoh-tokoh super hero di komik. Saya pun sempat berkirim surat kepada pengasuh rubrik itu dan menanyakan apakah tokoh-tokoh seperti Superman, Batman, Gundala, Godam itu benar-benar ada? Kalau ingat keluguan kami waktu itu, saya sering tersenyum sendiri.

Di saat yang sama kami juga satu kelas di madrasah. Kami sama-sama ikut pengajian sore hari di Madrasah Ibtidaiyah Nurul Iman. Yang saya ingat dari Pak Iim ini adalah setiap dapat giliran baca Al Qur'an dia selalu gugup. Suaranya bergetar. Mungkin dia grogi. Saya senang sekali melihat dia dapat giliran mengaji. Hehehe. Sorry Im...

Hubungan kami tidak berlangsung terus-menerus. Sering putus-sambung. Waktu kelas 6 SD, Pak Iim pindah sekolah ke Jakarta Pusat. Sejak itu hubungan kami putus sampai masa kuliah. Pak Iim melanjutkan SD, SMP, dan SMA 1 Budi Utomo di Jakarta Pusat. Sedangkan saya tetap di kandang. Sesuai rayon saya melanjutkan di tempat yang sama sampai SMA. Kalau pun bertemu hanya sekedar say hello saja.

Waktu kuliah, Pak Iim mengambil jurusan Teknik Komputer di Gunadarma sedangkan saya mulai keluar kandang, mengambil Jurusan Manajemen di Trisakti. Semasa kuliah ini kami pun sempat berhubungan. Waktu itu saya ajak Pak Iim untuk bergabung mengikuti pengajian rutin di rumah saya. Pengajian itu pun tidak berlanjut. Akhirnya bubar. Saya pun tidak ada kontak lagi dengan dia sampai lulus kuliah.

Setelah lulus kuliah kami pun berhubungan lagi. Kali ini karena ada urusan bisnis. Secara tidak sengaja ternyata ada kecocokan di antara kami. Saya ada kemampuan dalam membuat sistim bisnis ritel dan Pak Iim di bidang teknologi informasi (IT). Waktu itu kami sepakat untuk mengerjakan proyek bersama di sebuah toko grosir besar di Sumatera. Beberapa bulan kami berhubungan cukup intens.

Pada tahun 2001 kami sama-sama mendapat pasangan dan menikah. Pak Iim di bulan Maret, dan saya di bulan April. Sayang sekali di ulang tahun pernikahan yang ke lima ini dia sampai lupa. Payah. Dia ingat setelah membaca postingan mengenai ultah pernikahan di blog saya. Gimana sih lo, Im?

Setelah kerja sama proyek dan sama-sama berkeluarga, kami pun jarang bertemu. Sibuk dengan urusan masing-masing. Pak Iim berkarir di Asuransi Aetna Life dan saya menjadi pedagang di Pasar Tanah Abang. Kontak kembali lagi terjadi tahun 2003-an, waktu Pak Iim memutuskan untuk resign dan mendirikan perusahaan IT. Salah satu pendorongnya untuk resign adalah karena provokasi dari saya.

Usaha saya pun akhirnya berkembang dan saya pun mulai melek IT. Makanya, saya tidak jauh-jauh mencari solusinya. Pak Iim sampai sekarang telah membantu kebutuhan IT di bisnis saya. Biar pun teman, soal bisnis is bisnis. Kalau ada kekurangan, saya pun tak segan melakukan komplain dan mengkritiknya. Ini demi kemajuan bisnisnya juga menurut saya.

Saya pun sempat "dipaksanya" untuk join di MLM Amway. Berbagai upaya dilakukannya untuk mengajak saya. Akhirnya saya join juga karena merasa nggak enak. Soalnya dia sampai mengajak uplinenya yang sudah berperingkat Emerald untuk datang ke rumah saya malam-malam. Luar biasa usahanya. Akhirnya saya join dan sempat memborong hampir seluruh produk Nutrilitenya. Strateginya jitu juga. Saya tidak gampang tergoda dengan iming-iming penghasilan tinggi. Tapi, kalau sudah soal kesehatan, saya biasanya langsung tertarik.

Saya sempat kecewa dengannya. Dia saya juluki "murtad", karena memutuskan untuk kembali bekerja. Menurutnya sih, bukan bekerja. Tapi mendapat assignment untuk mengerjakan proyek untuk jangka waktu tertentu. Tapi, tetap saja saya kurang setuju. Menurut saya itu tetap saja bekerja alias Tangan Di Bawah (TDB). Alhamdulillah, sekarang Pak Iim sudah sadar dan kembali ke jalan yang benar untuk konsisten menjadi Tangan Di Atas (TDA). Sebab, menurut Pak Haji Ali, biar pun gajinya 20 juta tetap namanya tangan di bawah. Nabi tidak mencontohkan ummatnya untuk menjadi Tangan Di Bawah. Bagaimana kita mau membangun ummat dan bangsa kalau kita sendiri masih tangan di bawah alias bekerja di bawah sistem yang tidak kondusif untuk berbuat lebih banyak?

(bersambung)

Sumber: Badroni Yuzirman (Founder TDA)