Seharian kemarin, waktu saya habiskan bersama TDA.
Pagi hari, mulai jam 8 saya dan istri sudah sampai di gedung Arthaloka lantai 6, tempat berlangsungnya rapat pendirian TDA Finance yang berbentuk koperasi simpan pinjam. Pertemuan ini dihadiri lebih dari 40 orang member dan juga hadir 3 orang "bintang tamu" member TDA dari Jogja dan NTB.
Alhamdulillah, rapat ini berlangsung lancar, dinamis dan produktif menghasilkan beberapa keputusan penting, di antaranya mengenai susunan pengurus, pembentukan dewan penasehat, pembentukan dewan pengawas, mekanisme pembagian keuntungan, dan sebagainya.
Insya Allah update resumenya akan disampaikan oleh sekretaris TDA Finance.
Selepas shalat Dzuhur dan makan siang, saya pun meluncur ke daerah Pondok Bambu, tepatnya di Swalayan Tip Top untuk menemui Pak Haji John Idris guna membicarakan beberapa hal mengenai kerja sama dengan TDA. Di sana saya ditemani oleh Pak Hantiar dan Pak Hertanto.
Beberapa hal mengenai kerja sama ini kami konfirmasikan ke beliau, guna mencari kejelasan. Ternyata space yang ditawarkan kepada TDA adalah untuk cabang Depok dulu, bukan Pondok Gede seperti yang diinformasikan di milis. Saran beliau, sebaiknya para member yang berminat buka usaha di sana agar meninjau lokasi terlebih dahulu.
Kami juga membicarakan mengenai kemungkinan membuka cabang Tip Top dalam bentuk jaringan mini market. Hal ini juga disambut positif oleh beliau. Bahkan beliau mengusulkan agar membuka saja cabang swalayan seperti Tip Top sekarang. Pola kerja samanya bisa diatur. Ketimbang membuka banyak mini market, lebih baik membuka satu cabang swalayan saja. Keuntungannya jauh lebih besar, katanya.
Selepas dari sana, saya ditawari oleh Pak Hantiar untuk berkunjung ke rumahnya yang tidak jauh dari sana. Kebetulan, istrinya Bu Waru baru melahirkan 3 bulan lalu dan baru sekali kami singgahi saat melahirkan dulu.
Hubungan kami punya nilai historis dan kenangan tersendiri. Pak Hantiar dan Bu Waru adalah pasangan yang menikah lantaran bertemu di TDA, khususnya selama berkumpul di ITC Mangga Dua, tempat action pertama para founder TDA.
Sebelum bergabung di TDA, Pak Hantiar adalah kawan saya di JPMI (Jaringan Pengusaha Muslim Indonesia). Kami berkenalan saat mengikuti kunjungan muhibah ke Malaysia tahun 2005 lalu. Bu Waru sendiri adalah kawan istri saya. Mereka berkenalan juga dari JPMI.
Saat talkshow TDA pertama dulu, sayalah yang mengundang Pak Hantiar untuk hadir dan sebaliknya Bu Waru diundang oleh istri saya. Jadi, secara faktanya, kamilah yang menjadi "mak comblang" pertemuan di antara mereka.
"Aisyah, ini tante yang mempertemukan umi dan abi dulu", seru Bu Waru kepada bayinya yang baru dimandikan.
Selepas Maghrib kami pun berpisah dan menuju satu tujuan lagi di daerah Tebet, tepatnya di toko busana muslim milik Bu Doris yang selama ini juga menjadi reseller produk Manet. Kami memutuskan berkunjung ke sana karena memang satu arah menuju pulang dan juga penasaran membaca cerita di blognya.
Di sana kami disambut oleh Bu Doris dan suaminya, Pak Yassir yang juga adalah mentor saya dalam kelas belajar melukis.
Saya senang mendengar cerita perkembangan bisnis Bu Doris ini. Alhamdulillah, sudah ketemu jalannya, sebab sejak bergabung TDA sekitar Februari 2006 lalu saya perhatikan Bu Doris masih mencari-cari bisnis yang cocok untuknya. Dimulai dari menjual voucher, ayam goreng dan akhirnya pilihannya jatuh kepada membuka toko busana muslim.
Demikianlah cerita perjalanan saya sepanjang hari Sabtu kemarin bersama para member TDA yang sudah saya anggap sebagai keluarga besar sendiri. Berada di tengah-tengah teman-teman TDA ini membuat hidup saya lebih bergairah dan sekaligus menyenangkan.
Katanya, Allah akan merahmati orang-orang yang gemar bersilaturahmi dan saling mendoakan satu sama lain. Insya Allah, di komunitas ini adalah salah satu jalan meraih rahmat itu. Amiiiin...
Salam FUUUNtastic!
Wassalam, Roni, Owner, Manet Busana Muslim Founder, Komunitas TDA