Nas Jamalludin, seorang perserta talkshow yang datang jauh dari Surabaya. Kemarin, Sabtu 21 Januari, dia telepon saya begitu sampai di terminal Rawamangun. Karena hari itu saya memang ada rencana ketemu Pak Haji Ali, maka saya ajak dia sekalian ketemu dengan beliau di Tanah Abang. Kepada Pak Haji dia cerita tentang rencana yang ingin memulai usaha baru setelah tiga bulan mengundurkan diri dari pekerjaannya.
Pak Haji adalah orang yang saya kenal sangat tidak suka dengan orang yang bekerja. Apalagi orang sekolah tinggi seperti Jamalludin yang S-2. Beliau memprovokasi Jamal untuk hijrah ke Jakarta saja karena di Jakarta uang itu berlimpah. "Silakan, anda mau bisnis apa. Saya bantu. Mau buka di Tanah Abang, ayo. Mau jadi agen di Bandung, boleh. Silakan pilih. Kalau kita dapat 10 juta dari bekerja kepada orang lain dibandingkan 1 juta dari usaha sendiri, lebih baik usaha sendiri. Sembilan dari sepuluh pintu rezeki adalah untuk para pedagang," kata beliau.
Terprovokasi oleh tantangan Pak Haji, saya lihat Jamal terlihat bingung. Minggu depan dia harus sidang thesis S-2nya. "Oke, saya akan hijrah ke Jakarta, tapi saya akan selesaikan dulu sidang saya dan mempersiapkan kepindahan keluarga saya," jawab Jamal. "Silakan selesaikan sidangnya, S-2 itu penting juga. Biar dianggap orang. Tapi keluarga jangan dibawa dulu. Belajar hidup jauh dari keluarga. Biasakan keluarga itu berpisah dengan kita. Toh, kelak kita pun akan berpisah selamanya," timpal Pak Haji.
Demikian sekelumit yang saya sharing mengenai Pak Haji. Beliau adalah orang yang action oriented. Begitu ada ide, langsung dijalankan. Dan beliau sangat tidak suka dengan anak muda yang sekolah tinggi tapi bekerja, bukannya berbisnis. Tangan di atas lebih baik dari pada tangan di bawah. Sebesar apa pun gaji kita, tetap tangan kita masih di bawah. Teringat saya, sekitar tahun 1999, saat saya menjadi marketing freelance Asuransi Takaful. Saya datang ke ruko beliau untuk menawarkan asuransi. Hitungan saya, premi tiga rukonya kalau saya dapat, akan lumayan komisinya. Saya sampaikan tawaran itu kepada beliau. Saat itu juga muka beliau menjadi merah seperti marah dan tidak senang. "Saya kecewa dengan anak muda seperti kamu. Sekolah tinggi-tinggi kok malah bekerja. Apa nggak ada usaha lain. Kamu bisa dagang kecil-kecilan. Kalau nggak punya modal, jadi makelar dulu. Makelar apa saja. Kalau sudah terkumpul modalnya, langsung dagang," katanya. Sampai saat ini tidak bisa saya lupakan nasehat beliau itu. Dan alhamdulillah, saat ini tangan saya sudah di atas. Salah satunya berkat provokasi dari beliau. Terima kasih Pak Haji. Anda adalah inspirasi saya. Berada dekat dengan beliau ibarat membaca buku yang tak pernah tamat. Selalu ada hal baru yang saya dapatkan. Tidak hanya urusan dunia, bahkan ilmu akhirat pun banyak saya pelajari dari beliau.