Saya mendapat SMS dari Pak Tito dari Semarang yang mengabari bahwa ia tengah dalam perjalanan menuju Jakarta dan ingin bertemu saya.
Akhirnya, kemarin kami bertemu di ITC Mangga Dua, saat saya menjalankan 'tugas baru' saya: membeli pernak-pernik kebutuhan Vito , buah hati kami yang baru berusia 28 hari ini.
Pak Tito berkisah bahwa ia geregetan ingin menggerakkan TDA Semarang yang menurutnya rada ketinggalan dibandingkan tetangganya di Jogja dan Solo.
Berkat provokasi Pak Adib dan teman-teman TDA Joglo , akhirnya Pak Tito memberanikan diri menerima tantangan untuk menyelenggarakan halal bi halal TDA di Semarang.
Awalnya Pak Tito bingung, lantaran beberapa member TDA Semarang yang dihubunginya menyatakan tidak bisa terlibat. Memang, meskipun di Semarang sudah ada beberapa member, nampaknya saat ini belum bisa bergerak bersama lantaran seluruh membernya masih berstatus TDB.
Namun, selalu ada jalan. Kebetulan Pak Tito kenal dengan Pak Prie GS , seorang budayawan Semarang yang juga sering muncul di jaringan radio Smart FM. Kebetulan Pak Prie juga punya komunitas entrepreneur di Semarang, namanya Semarang Entrepreneur Community (Senity) yang sudah lebih dulu eksis di sana.
Tawaran Pak Tito disambut hangat, maka insya Allah acara halal bi halal tanggal 20 nanti merupakan kolaborasi TDA dan Senity dan akan dihadiri oleh member TDA dari berbagai daerah sekitar seperti Jogja, Solo, Wonosobo, Surabaya dan lain-lain. Insya Allah, beberapa member dari Jakarta seperti Pak Agus , Bu Yulia juga menyatakan niatnya untuk hadir di sana.
Pak Tito juga menyatakan kalau bahwa nanti TDA Semarang akan satu atap dengan TDA Joglo (Jogja Solo). Menurutnya, penamaan Joglo itu jangan dikaitkan dengan Jogja Solo saja, melainkan melambangkan rumah adat Jawa atau melingkupi TDA wilayah Jawa secara keseluruhan. Saya setuju dengan pendapatnya.
Melihat geliat TDA di Jawa ini saya merasa senang sekali. Saya ingat waktu awal berdiri TDA dulu di mana Pak Budi Prajitno sering curhat kepada saya mengenai keinginannya untuk mengumpulkan dan menggerakkan TDA di Jogja. Alhamdulillah, saat ini impian Pak Budi sudah menjadi kenyataan.
Menurut Pak Tito, saat ini hampir tiap minggu ada kegiatan atau kumpul-kumpul para member di Jogja Solo. Kegiatan offline di antara mereka sudah mulai bergulir. Ini melegakan saya. Inilah yang sering saya pesankan, bahwa TDA itu yang penting adalah spiritnya. Itulah yang harus dicontoh dan terus digulirkan. Siapa pun yang punya sprit seperti TDA ini, berarti ia sudah bagian dari TDA meski pun secara formal ia belum bergabung.
Saat berbincang dengan Pak Tito ini, saya mencoba mencari tahu sejauh mana dampak TDA ini terhadap para member di daerah dan bagaimana persepsi teman-teman di daerah terhadap TDA ini.
Memang ada persepsi yang perlu sedikit diluruskan. TDA ini dalam perjalanannya sangat dinamis dan penuh kejutan. Makanya, tidak salah kalau sebagian member di daerah kesulitan untuk memahami secara utuh TDA itu.
Misalnya, kegiatan-kegiatan yang ditawarkan oleh Pak Haji Ali (sesepuh TDA) yang terkesan 'bagi-bagi peluang gratis' itu. Kegiatan seperti ini bisa menjebak seolah-olah TDA itu programnya adalah bagi-bagi kios gratis, bagi-bagi modal dan sebagainya. Jelas, hal seperti ini sulit ditiru di daerah. Program seperti ini juga 'berbahaya' karena bisa menghidupkan mindset TDB lagi, alias meminta-minta fasilitas dan sebagainya.
Pada kenyataannya, program seperti ini juga banyak yang tidak berhasil seperti yang diharapkan. Justru member yang take action secara mandiri malah lebih kencang larinya dan lebih dahsyat bisnisnya.
Menutup pertemuan, sekali lagi menyampaikan kegembiraan dan rasa syukur saya melihat perkembangan TDA di wilayah Jawa. Saya merasakan 'spirit TDA' sudah mulai mengalir di sana.
Kepada teman-teman TDA wilayah Jawa, selamat berhalal bi halal, saling silaturahmi. Mudah-mudahan kebersamaan ini membawa berkah bagi kita semua dan bisa menebarkan rahmat bagi lingkungan kita. Amin.
Selain bertemu dengan saya, sebelumnya Pak Tito juga telah bersilaturahmi dengan Pak Hantiar dan Bu Ning Harmanto .
Salam FUUUNtastic!
Bersama TDA Menebar Rahmat Wassalam, Roni , Owner Manet Busana Muslim