Dear all, Mohon maaf, tulisan email ini tidak saya tujukan orang per orang, ini ditujukan untuk semua termasuk diri saya pribadi. Jadi mohon maaf jika ada salah kata dan tersinggung dengan adanya email ini.
Siang ini saya telepon kakak sepupu yang jaga toko di Metro Tanah Abang (MTA), ternyata HANYA 2 kios ( kios saya dan Pak Endro ) yang buka. Glekkkk ??? Ada apa gerangan ??? kok malah jadi begini ? saya hanya ingin menegaskan komitmen awal dulu kita buka kios. Kondisi sepi bukannya tidak kita sadari, sebenarnya itupun sudah bisa kita lihat dengan mata telanjang bahkan sebelum buka toko. Saya pikir, kondisi sepi tidak bisa menjadi alasan kuat mengapa kios tidak buka. Justru sebenarnya itu menjadi pemacu kita bagaimana agar kios2 tsb bisa rame.
Salam, -Hidayat- -------------------------------- Bapak2 sekalian, Sebelumnya mohon maaf jika terkesan menggurui...
Mohon di-refresh balik lagi, niat membuka kios sepatu ini di awal2.. Mudah2-an jangka panjangnya adalah HARUS mempunyai media bisnis, dalam hal ini sepatu..bukan sekedar tujuan jangka pendek,mumpung.. Apapun bentuk media bisnis yg dilakukan, dalam hal ini per-sepatu-an, pasti mengalami proses belajar, dan ada masa panen dan masa paceklik, kata Pak Roni justru masa sibuk untuk berbenah lagi..Jadi set-goalnya: HARUSLAH mempunyai bisnis sepatu, BUKAN coba-coba berbisnis sepatu, karena jika terjadi rintangan sedikit saja akan berhenti. Kalau berpikir HARUS maka justru menjadi proses belajar MENGAPA BEGINI..MENGAPA BEGITU...bagaimana jalan keluarnya...
Saya ceritakan kondisi toko saya sendir di Metro Tana Abang (MTA) , tidaklah beda dgn kondisi Bapak2 sekalian, meskipun di lantai 4 namun karena dianggap lantai mati maka trafiknya pun kecil sekali. Jadi penjualan sedikit sekali, bagaimana mensikapinya, saya jual via internet, lho kenapa gak ditutup saja yg di MTA, kan menjadi beban. Tidak, kecuali karena diminta oleh pengelola, karena penjualan maya tetap memerlukan alamat off-line untuk menjaga kepercayaan. Di sisi lain, saya belajar pula dari toko, apa yg laku dan apa yg menjadi trend sekarang...
Ini ada juga kasus Pak Abduh yg buka di Mangga Dua. Penjualan tokonya menyusut bahkan mendapat tropi tengkorak , yaitu untuk yg mendapat omset terkecil. Apakah Pak Abduh berhenti, tidak, beliau justru mendapat order dari rumah melalui penjualan direct selling.omsetnya mendekati juara M2 saat ini bahkan lebih kabarnya. Kalau begitu di M2 ditutup saja kan rugi, tidak, karena Pak Abduh memerlukannya untuk bargain dan image, Nama M2 tidakdiragukan lagi.Sebagai bahan refleksi...Mohon maaf jika tidak berkenan...
Salam, Hasan www.grosirtanahabang.com ---------------------------- Terima kasih Pak Hasan atas sharingnya. Memang, dalam berbisnis kita harus punya visi. Salah satunya di bisnis sepatu ini kita mau ke mana. Nggak masalah saat ini kita ada di kios sepi dan gratisan MTA. Kesannya kan mikro gitu ya. Tapi ingat, yang penting kita MAU KE MANA ARAHNYA? Yang diceritakan Pak Hasan itu adalah benar, teman-teman lt 4 MTA, TDA Garment, juga mengalami berbagai kesulitan. Lantas satu dua mulai ketemu AHAnya dan mulai menempuh JALAN BARU. Kemudian kita sepakat, bahwa peluang yang diberikan kepada kita secara gratis ini bukanlah tiket gratis menuju sukses. Tapi, dengan adanya kesulitan dan hambatan di sana membuat kita berpikir keras bagaimana mengatasinya. Terjadilah TITIK KRITIS di mana kita dipaksa melakukan sesuatu, dan insya Allah nantinya akan ada MESTAKUNG (Semesta Mendukung), ada aja invisible hands yang tiba-tiba memberikan bantuan atau kemudahan kepada kita. Kita yakin di situlah keterlibatan Tuhan bermain. Silakan baca mengenai Mestakung ini di blog saya.
Mengenai komitmen teman-teman, ini adalah biasa terjadi di mana-mana. Di TDA Garment, IT, Seluler, ada yang seperti ini. Ingat, yang tertawa terakhirlah yang menjadi pemenang. Artinya, yang bertahan dan terus berusaha keras (persistent).
Berkaitan dengan sepinya kondisi di sana, pertama karena memang paska lebaran, kedua memang kondisi di sana memang masih sepi. Kemudian kita juga perlu melihat siklus bisnisnya. Masing-masing produk siklusnya beda-beda. Ada yang laris sepanjang tahun, ada yang cuma beberapa bulan dalam setahun. Contoh, sepatu anak paling laris di saat mau masuk sekolah, dsb. Kita harus pelajari itu. Makanya kita perlu mentor di sini. Aktiflah bertanya dan berkomunikasi dengan pebisnis sepatu di Jatinegara atau Pasar Anyar Bogor. Di sana gudangnya AHA.
Kalau di bisnis saya, garment, saat ini juga sepi. Itu siklus tahunan. Makanya saya gunakan waktu ini untuk "asah gergaji". Bikin perencanaan, maintenance, lihat peluang2 baru, review, evaluasi, dll.
Saran saya, sebaiknya aktiflah mencari informasi baru. Sering2lah bertanya kepada yang sudah sukses di bisnis sepatu ini. Sehingga kita dapat pandangan yang luas dan lebih clear. Pasar Anyar Bogor adalah salah satu sumber informasinya. Dua orang paman saya (paman dari istri saya) baru mulai di sana 1-2 tahun ini. Tapi hasilnya sudah kelihatan. Kalau mau serius di bisnis sepatu ini, salah satunya adalah masuk ke Pasar Anyar ini. Trust me, sudah banyak yang sukses di sini. Modal awalnya antara 50-100 juta. Ada yang berani? Kenapa takut? Kita kan sama-sama. Kapan-kapan sepertinya kita HARUS bikin tour de Pasar Anyar dari TDA Sepatu.
Paman saya ini dulunya juga mulai dari mengamati para pedagang di pasar Anyar ini. Kurang lebih setahun dia nongkrong di sana, bertanya-tanya dan mengamati. Akhirnya setelah paham benar kondisi dan peluangnya kemudian dia terjun, dan terbukti sukses.
Semoga bermanfaat.
Salam FUUUNtastic!
Wassalam, Roni
