Ingin bisnis Anda naik level? Let's 9.0 Together Gabung sekarang
← Semua berita

28 Juli 2007

Tidak Harus Menjadi TDA, yang Penting Spirit Kewirausahaannya

Dalam kesempatan TDA Business Conference at Y!M kemarin, Pak Rusman Hakim sebagai narasumbernya melontarkan pemikiran menarik, di antaranya:

1. Janganlah kita terpaku untuk menjadi kaya ala Amerika yang materialistis. Menurutnya saat ini banyak di antara kita yang begitu terpukau dan mengacu kepada penganjur jalan kekayaan ala Amerika yang belum tentu cocok dengan budaya kita.

Hmm... saya juga termasuk sering mengutip dan mengikuti konsep mereka. Tapi saya tidaklah menganjurkan pembaca atau member TDA menjadi seperti itu. Makanya, berdirilah TDA yang mengutamakan keselarasan dan keseimbangan hidup dalam meraih kekayaan dunia dan akhirat. Semangat tolong menolong tanpa pamrih sangat kita dorong di TDA. Makanya, saya yakin TDA semakin tumbuh seperti sekarang karena kemampuan kita untuk menjaga spirit ini.

2. Janganlah uang atau kekayaan dijadikan tujuan utama dalam berbisnis. Setelah kita merasa cukup, kita harus berbagi untuk orang banyak. Jangan memikirkan diri sendiri terus. Sebenarnya konsep di TDA sudah selaras dengan ide ini. TDA alias Tangan Di Atas kita ambil dari hadis Nabi yang diberi perspektif baru. Tangan Di Atas adalah suatu sikap hidup yang gemar memberi dan saling membantu untuk kemajuan bersama. Dalam hal ini TDA sebagai sebuah komunitas bisnis, selalu mengacu kepada spirit mulia ini.

3. Inti dari kewirausahaan adalah kepemimpinan, leadership. Leadership dibangun dari contoh teladan, bukan perkataan atau perintah. Leader menginspirasi orang lain untuk melakukan sesuatu berdasarkan kata hatinya, bukan dari motivasi materi semata. Leader memimpin dengan otak dan hati, bukan dengan kekuatan. Leader menginspirasi orang lain untuk bisa menemukan dan mengembangkan potensi terbaik dari orang-orang di sekitarnya.

4. Kewirausahaan adalah lebih kepada spirit, bukan sekedar yang terlihat secara kasat mata. Bisa saja orang yang sehari-harinya berbisnis tapi di dalam dirinya tidak terdapat spririt kewirausahaan. Bisa saja orang yang bekerja sebagai TDB, tapi punya spirit kewiurausahaan di dalam dirinya.

Jadi, bisa saja seseorang berperan sebagai TDB sekaligus TDA atau amphibi. Yang penting dia punya spirit kewirausahaan itu.

Point keempat ini menantang saya untuk berpikir keras. Dalam tataran pemikiran, saya bisa menerima argumen ini.

Saya pun kemudian berdiskusi dengan Pak Iim seandainya ide ini kita terima di TDA. Artinya, nanti TDA tidak lagi mewajibkan membernya untuk menjadi full TDA. Mereka tetap saja bekerja sebagai TDB atau amphibi.

Tapi, yang terjadi di lapangan berbeda. Teman-teman yang berbisnis secara sambilan terlihat kurang leluasa bergerak ketimbang yang full TDA.

Di beberapa unit bisnis TDA seperti TDA IT, TDA Garment, TDA Seluler, TDA Food faktanya memperlihatkan hal ini. Member yang secara penuh mengelola bisnisnya lebih cepat maju ketimbang yang berbisnis secara sambilan.

Hal ini perlu kita pikirkan bersama. Yang jelas, saya pribadi belum berani mengatakan untuk menjadi TDA tidak harus melepas status TDB-nya.

Namun, untuk langkah amannya, menjadi amphibi tetap bisa dipilih sebagai persiapan menjelang full TDA.

Any idea?

Salam FUUUNtastic!

Wassalam, Roni, Owner, Manet Busana Muslim Founder, Komunitas TDA

Sumber: Badroni Yuzirman (Founder TDA)